
Sebuah tulisan tentang komunitas Filipina muncul di harian ini, Sabtu, 17 Juni 2006. Tulisan itu melaporkan aktifitas sosial sekitar seratus orang anggota The Filipino Community (Filcomin) di Surabaya. Pertumbuhan itu cukup pesat karena 10 tahun lalu anggota organisasi tersebut hanya sekitar 10 orang.
Tulisan itu mungkin lebih menyadarkan sebagian kita betapa sebenarnya Surabay tidak sekedar kota metropolitan (kota besar), tetapi juga kosmopolitan. Istilah kosmopolitan berasal dari istilah bahasa Inggris “cosmopolitan”. Oxford Advanced menyebutkan, cosmopolitan (kata sifat) berarti “of or from all, or many parts of the world.” Kata itu juga berarti “free from national prejudices because of wide experience of the world.” Kamus besar bahasa Indonesia menyatakan, kosmopolitan berarti mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas; atau terjadi dari orang-orang atau unsur-unsur yang berasal dari berbagai penjuru dunia.
Suatu kota kosmopolitan berarti kota yang warganya banyak terdiri atas orang-0rang yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Atau juga suatu kota yang sistem kehidupan banyak warganya dapat hidup dan berkembang di berbagai tempat di seluruh dunia. Bila menyangkut pandangan seseorang, kosmopolitan berarti orang itu berpandangan internasional akibat pengaruh luasnya wawasan dan pengetahuannya.
Banyak kota di dunia ini yang dikatakan sebagai kota kosmopolitan. Tetapi, seberapa jauh tingkat kosmopolitanismenya tentu juga berbeda-beda. Kota-kota seperti London, Paris, New York, Wina, dan Jerussalem (Al Quds) adalah beberapa kota yang sangat kosmopolit., yang ditandai dengan amat beragamnya orang-orang yang tinggal di kota-kota tersebut. Mereka datang dari berbagai negara, berbagai bangsa dan suku, dengan beragam bahasa dan pandangan hidup mereka.
Bagaimana Surabaya? Informasi yang digali, antara lain, dari berbagai lembaga asing resmi seperti konsulat asing, orang-orang asing dan mereka yang berhubungan dengan orang asing menunjukkan kota ini cukup kosmopolit. Memang tidak ada angka pasti jumlah orang asing yang tinggal di Surabaya. Pasalnya, tidak ada kewajiban warga asing itu untuk melapor ke konsulat negaranya. Tetapi Carmelitto Sagrado, konsul kehormatan Filipina yang telah menetap di Surabaya selama 25 tahun, memperkirakan orang asing yang tinggal di kota ini antara 1.500 hingga 2000 orang.
Perkiraan itu kiranya masuk akal. Orang Jepang misalnya, menurut Perkiraan M. Arfil dari Konjen Jepang, berjumlah sekitar 500 orang. Warga negara Amerika Serikat sekitar 250 orang, wrga negara Belanda 200 orang, sedangkan warga negara Jerman sekitar 50 orang. Banyak diantara mereka menikah dengan orang Indonesia. Semua data dari konsular masing-masing itu memang hanya perkiraan. Belum diperoleh data tentang warga negara RRT, Korea selatan, Taiwan,yang diperkirakan cukup besar karena banyaknya perusahaan dari negara-negara tersebut di kota ini atau daerah Jatim. Demikian juga warga negara Malaysia, Singapura, Thailand, dan sebagainya.
Bagaimana Surabaya di mata mereka? Bagi Konjen Jepang Shoji Sato, yang baru dua bulan di kota ini, Surabaya adalah kota “sangat mengagetkan” karena banyaknya sepeda motor (yang didominasi produk jepang). Konjen Sato mungkin membandingkan kota ini dengan kota-kota di Jepang, yang memang jarang ada sepeda motor. Atau dengan Singapura, yang seolah “mengharamkan” kendaraan bermotor roda dua itu. Namun secara umum, komentar-komentar lain cukup positif, apalagi dibandingkan dengan Jakarta. Bagi Carmelitto Sagrado, Surabaya terasa friendly, dengan penduduknya yang masih saling sapa, hal yang tidak bisa diharapkan di Jakarta. Tetapi, apakah itu karena Sagrado tinggal di kawasan Kampung, bukan kawasan perumahan elite?
Namun apapun jawabannya, Surabaya sudah menjadi kota kosmopolitan sejak lama. Dari sebuah buku telepon Surabaya yang terbit pada 1921, misalnya, kita dapat menyimak betapa sudah majunya kota ini. Sebagai kota dagang dan industri kentara sekali adanya keanekaragaman usaha dan bisnis warga kota-meski sebagian besar mereka bukan penduduk pribumi. Dari daftar nama yang terpampang di buku telepon itu, setidaknya, kita dapat mengetahui keberagaman latar belakang pemiliknya.
Sifat kosmopolit Surabaya ini juga dapat dijejaki dari makam-makam lama di kota ini. Salah satunya adalah makan Belanda di JL. Peneleh, yang sudah lama dibiarkan terlantar. Lainnya lagi adalah makam-makam Yahudi, di bagian belakang komplek Makam Kristen Kembang Kuning.
Dari pengamatan, Makam Peneleh ternyata tidak hanya untuk orang-orang Belanda, tetap juga orang asing lainnya. Seorang penulis asing, Graeme T. Steele, menyebutkan, adanya orang-orang dengan berbagai kebangsaan, sperti Perancis, Inggris, Jerman, dan Australia menunjukkan sifat kosmopolit Surabaya sejak dulu.
Besar kecilnya nisan di makam itu juga menunjukkan beragamnya latar belakang sosial dan ekonomi orang yang dimakamkan. Ada nisan besar dengan marmer, lengkap dengan bangunan yang melindunginya, yang menunjukkan kemampuan finansial seseorang. Sebagian diantaranya dilengkapi patun-patung indah serta inskripsi berbahasa Belanda dan Inggris.
Beberapa kuburan yang besar adalah kubur para pejabat Hindia Belanda yang meninggal pada abad ke-19. Salah satunya kuburan Daniel Franqois Willem Pietermaat, resident van Soerabaja, yang meninggal pada 1848.
Adanya makam khusus Yahudi di kawasan Kembang Kuning juga menunjukkan keberagaman latar belakang warga Surabaya. Dilihat dari namanya, sebagian orang Yahudi itu berasal dari negara-negara Arab terutama Iraq, sedangkan lainnya berasal dari Eropa. Menurut data, jumlah orang Yahudi saja di Surabaya sebelum masuknya Jepang pada 1942 tidak kurang dari 500 orang.
Semua itu menunjukkan kota ini adalah kota yang toleran kepada orang-orang asing. Sebagai rumah, Surabaya adalah rumah yang cukup nyaman bagi mereka. Mudah-mudahan akan selalu demikian.
(di tulis oleh Djoko Pitono, pengarang dan Editor Buku, dikutip dari Jawapos…)
